
Momentum mudik Lebaran 2025 menjadi harapan bagi pemerintah untuk bisa menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa terjaga di kisaran 5%.
Meski begitu, pemerintah belum menyiapkan perhitungan seberapa besar efek pergerakan pemudik yang tiap tahun bergerak selama periode Lebaran atau Idulfitri terhadap pertumbuhan ekonomi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto hanya mengatakan, yang jelas setiap musim Hari Besar Keagamaan Nasional atau HBKN belanja masyarakat meningkat, mendorong laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang menjadi faktor pendorong terbesar PDB Indonesia.
“Ya tentu kita berharap sih setiap kali hari raya ekonomi biasanya tumbuh tinggi akibat spending,” kata Airlangga di kantornya, Kamis (27/3/2025).
“Nah ini yang pemerintah berharap faktor hari raya itu jadi pengungkit di kuartal I ini,” tegasnya.
Ia pun mengatakan, besarnya potensi HBKN terhadap pertumbuhan ekonomi membuat pemerintah menggelontorkan berbagai kebijakan untuk mendorong konsumsi masyarakat, salah satunya berupa insentif dari sisi pasokan maupun permintaan.
Insentif itu di antaranya diskon harga tiket pesawat, pelaksanaan Harbolnas, Epic Sales, BINA Diskon, diskon tarif tol, hingga program stabilisasi harga-harga pangan atau kebutuhan pokok.
“Berbagai program ini kan dilakukan untuk menjaga daya beli, plus dengan THR dan yang lain, kami berharap pengungkit ini bisa terdorong,” tuturnya.
Sayangnya, jumlah pemudik tahun ini merosot dibanding tahun sebelumnya.
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan badan kebijakan transportasi, pusat statistik, Kementerian Perhubungan dan akademisi, jumlah pemudik diperkirakan hanya 146,48 juta orang atau sekitar 52% dari penduduk Indonesia. Angka itu turun 24% dibandingkan tahun lalu yang mencapai 193,6 juta pemudik.
Berdasarkan data 10 tahun terakhir dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memproyeksikan bahwa terjadi kenaikan yang signifikan dari proyeksi jumlah pemudik.
Pada 2020 dan 2021, jumlah pemudik mengalami penurunan yang sangat drastis bahkan tak sampai dua juta orang karena pemerintah melarang untuk mudik selama pandemi Covid-19. Namun, angkanya melonjak menjadi 85,5 juta pada 2022 saat mudik diperbolehkan oleh pemerintah.
Jumlahnya melonjak menjadi 123, 8 juta pada 2023 dan 193,6 juta pada 2024. Yang mengagetkan, jumlah pemudik berkurang hingga 47,12 juta orang pada tahun ini.
Berkurangnya jumlah pemudik ini menjadi anomali karena secara historis selalu mengalami kenaikan.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Sarman Simanjorang mengatakan bahwa penurunan pemudik ini terjadi karena beberapa hal. Pertama jarak libur Nataru (Natal dan Tahun Baru) serta Idul Fitri yang sangat berdekatan.
“Sehingga yang sempat berlibur selama Nataru tidak lagi merencanakan liburan atau pulang kampung saat libur Idul Fitri,” ujar sosok yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif APKASI (Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia).
Kedua, tambah dia, dengan kondisi ekonomi saat ini masyarakat cenderung menghemat (saving). Mengingat dalam beberapa bulan ke depan akan memasuki tahun ajaran baru yang memerlukan biaya masuk sekolah.
“Ketiga, maraknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK),” kata Sarman.
Keempat, lanjutnya, penurunan daya beli masyarakat serta faktor cuaca juga mempengaruhi niat masyarakat untuk pulang kampung.